| Sinopsis |
|---|
Kehidupan di Desa Mapper mengalir begitu saja, ala kadarnya orang desa. Moh. Elman hidup tanpa ambisi-ambisi besar yang muluk, tanpa rancangan motivasi modern seperti yang lazim didengar hari ini. Sang ibu mendidik anaknya dengan ketulusan yang murni, membiarkan hari demi hari berjalan seadanya seperti air sungai yang mencari jalannya sendiri ke muara. Di bawah asuhan sang ibu, anak itu belajar tentang kesederhanaan yang ekstrem; sebuah kehidupan yang dibentuk oleh keterbatasan namun kaya akan kehangatan emosional antara seorang ibu dan anak semata wayangnya. Keberanian adalah salah satu ciri paling menonjol dari dirinya. Tidak sedikit orang yang memilih diam ketika berhadapan dengan tekanan kekuasaan, namun Elman justru tampil di garis depan. Ancaman, intimidasi, bahkan moncong senjata dan tindakan represif aparat tidak pernah mampu memadamkan suara kritisnya. Ia memahami bahwa setiap perjuangan memiliki harga, dan ia memilih membayarnya dengan keberanian serta konsistensi sikap. Namun di balik ketegasan seorang aktivis, terdapat sosok santri yang menjaga akar spiritualitasnya. Nilai-nilai pesantren membentuk karakternya menjadi pribadi yang memiliki kompas moral yang kuat. Dari dunia santri itulah lahir keseimbangan antara keberanian melawan ketidakadilan dan kerendahan hati dalam menjalani kehidupan. |
| Detail | |||
|---|---|---|---|
| Penulis | : |
|
|
| ISBN | : | Dalam Pengajuan | |
| Jumlah Halaman | : | viii+73 | |
| Ukuran | : | 14.8cm x 21cm | |
| Harga | : | 0 | |